Sejarah memaparkan bahwa dahulu ada tokoh yang terkenal zumhur bernama Kiai Gede dimakamkan di Sunan Cibalampu, banyak pejiarah yang berdatangan dari luar daerah untuk berjiarah ke makam tersebut. Jalan yang menuju ke malam tersebut melewati sebuah sungai Cipanca yang pada zaman itu belum ada jembatan penyeberangan, sehingga harus menyebrang air di kali yang gede, di kala musim hujan (caah) sehingga orang Belanda bidang Kiayi Gede, Cai Gede, sehingga jadilah sebuah nama Cigagade, itu nama peninggalan orang Belanda dan kabar cerita pada orang tua, di Kampung Rancapaku, terdapat sebuah mata air gunung, sebuah mata air yang keluar tanpa henti-hentinya walaupun di musim kemarau yang panjang, diantara banyaknya mata air yang keluar di suku-suku gunung yang ada di wilayah Cigagade, mata air tersebutlah yang mempunyai arti tersendiri, bahkan oleh Penguru (Tokoh kampung zaman dulu) diberi nama “Sirah Cai Cibunian”. Konon katanya, air tersebut mengandung hasiat (dijadikan obat) mana kala bagi orang yang sedang mempunyai masalah.
Sumber lain menerangkan bahwa “Sirah Cai Cibunian” lokasinya bergandengan dengan Sirah Cai “Cigagade” yang mana tak kalah hebatnya. Sirah cai tersebut mampu menyuplai kebutuhan air bagi masyarakat di kala musim kemarau panjang yang gersang.
Nama-nama Sirah Cai gunung yang ada di wilayah Cigagade diantaranya :
- Sirah Cai Ciloa
- Sirah Cai Cipendeuy
- Sirah Cai Ciwerat
- Sirah Cai Cibunian
- Sirah Cai Cigagade
- Sirah Cai Cijumal
Catatan sejarah Desa Cigagade menerangkan, para tokoh, sesepuh-sesepuh dari semua kampung yang ada di wilayah Desa Cigagade seperti dari Kp. Tonjong, Kp. Cibalampu, Kp. Bale kambang, Kp. Cigagade, Kp. Tengger, Kp. Rancapaku, Kp. Rancaseel, Kp. Negla, Kp. Bantar teureup, Kp. Rancasaat dan Kp. Pasanggrahan membangun saluran air Garunggang I dan Garunggang II dengan semangat dan kekompakan seluruh masyarakat yang disertai dengan jampe pamake, maka selesailah pembuatan saluran tersebut, yang sampai saat ini terasa manfaatnya sehingga mampu mengairi areal pesawahan seluas + 350 ha.
Daerah Desa Cigagade yang berkedudukan diantara lereng-lereng pegunungan dan arena yang paling luas adalah hamparan tanah sawah yang amat sangat subur, karena diairi oleh tiga tiga saluran irigasi, yang pertama saluran irigasi Cibedug, dan dua irigasi swakelola Garunggang satu dan Garunggang dua. Di tengah-tengah hampran sawah dan tempat pemukiman penduduk, terbentang aliran sungai Cipancar yang “arula, arile” (berbelok-belok) di tengah-tengah wilayah desa Cigagade mulai Cibedug sampai dengan Cicadas Kulon Desa Pasirwaru dan Desa Limbangan Barat. Wilayah Desa Cigagade terangkum dalam wilayah Kecamatan Balubur Limbangan. Batas wilayah Desa Cigagade meliputi :
-Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Pasirwaru
-Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Limbangan Barat
-Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Majasari Kecamatan Cibiuk
-Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Cijolang
Peta Desa Cigagade
Wilayah Desa Cigagade yang amat sangat luas dan jumlah penduduk yang terus meningkat, maka pada tahun 1982 Desa Cigagade dimekarkan menjadi 2 desa yaitu Desa Cigagade dan Desa Cijolang, mengingat jumlah penduduk dan luas wilayah geografis sudah cukup memenuhi persyaratan untuk dapat dimekarkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar